HUJAN. ( Revisi )

By F - 6:43 PM




Prolog
“Selama masih ada rintikan hujan yang turun, selama itulah aku tidak sendiri dan mampu berdiri menghadapi realita kehidupan yang cukup rumit ini”
Dibalik derasnya hujan yang turun, terlihat seorang gadis remaja sedang menatap nanar rintikan hujan yang turun berhamburan. Senja, nama gadis yang bersembunyi dibalik hujan itu. Disaat hujan seperti ini,  ia selalu merasa dunianya tak lagi terasa hampa walaupun orang-orang terdekat di sisinya sudah tidak ada. Hujan, ya hujanlah sahabatnya. Setia mendengar semua keluh kesah yang ia sampaikan, dan setia menemani saat ia benar-benar sudah merasa putus asa dengan realita yang ia hadapi saat ini.
Mungkin menurut orang lain, Hujan hanyalah tetesan air yang jatuh ke bumi semata, tetapi tidak untuk Senja. Menurutnya, hujan mengingatkannya pada sebuah kenangan bersama orang yang disayanginya saat mereka masih ada yaitu ketika orang tuanya rela meninggalkan sebuah proyek kantor yang cukup dibilang besar dan menguras banyak pikiran maupun tenaga, dan pergi menerobos hujan badai demi melihat putri—semata wayangnya—berdiri di panggung kejuaraan. Sungguh Senja tidak akan pernah melupakan perjuangan orang tuanya saat itu. Memang orang tuanya terkesan tidak memperdulikan, karena sehari sebelum perlombaan dimulai kedua orang tuanya tidak bertatap muka atau pun memberi sedikit motivasi dengannya sedangkan saat itu ia benar-benar sedang membutuhkan dukungan dari mereka. Perasaan sedih menyelimuti Senja, namun ia harus bangkit dan berusaha untuk membanggakan mereka walaupun mungkin mereka tak melihatnya. Keesokan harinya saat di perlombaan, hujan kembali turun. Tidak henti-hentinya doa selalu Senja ucapkan. Sebab seorang temannya pernah berkata, waktu yang tepat agar doa kita dapat terkabulkan yaitu ketika hujan turun. Alhasil, saat ia menerima sebuah piala kejuaraan dari perlombaan tersebut, ia melihat kedua orang yang terpenting dalam hidupnya itu sedang berdiri di kursi penonton dengan wajah yang berseri-seri dan penuh bangga melihatnya.
Berangkat dari kejadian itu, Senja menjadi sangat menyukai bau tanah yang menjadi ciri khas akan datangnya hujan, ritme tetesan air yang turun bersamaan, dan segala sesuatu tentang hujan. Bahkan seringkali saat musim kemarau tiba, ia selalu merindukan dan mengharapkan kehadirannya.



Bab 1
            Hiruk pikuk aktivitas diluar telah membangunkan tidur nyenyaknya. Pagi ini seperti biasa sebelum berangkat menuju sekolah, Senja akan membangunkan anak-anak di panti, lalu menggiring mereka untuk menuju ke kamar mandi dan membantu bunda menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Semenjak kedua orang tuanya telah tiada, Senja diasuh oleh saudara jauhnya, namun karena mereka merasa terbebani olehnya, terpaksa mereka menitipkan Senja di sebuah panti dengan alasan tidak sanggup membiayai kebutuhan hidup Senja. Padahal jika dilihat-lihat keluarga Senja merupakan keluarga cukup berada. Tragis memang, tapi Senja kecil tidak sanggup berkata apa-apa selain mengiyakan perkataan mereka.
            Setelah melakukan aktivitas rutinnya tersebut, ia langsung pamit untuk menuju ke Sekolah. Seperti biasa, siang ini setelah pulang sekolah, Senja berniat untuk pergi ke tempat favoritnya, sebuah Perpustakaan yang terletak di tengah kota. Perpustakaan ini merupakan rumah kedua bagi Senja setelah Panti Asuhan. Mengapa? Karena separuh waktunya ia habiskan untuk membaca atau pun sekadar belajar. Bahkan terkadang karena terlalu keasyikan, ia bisa tertidur sampai sore hari sehingga mau tidak mau penjaga perpustakaan harus membangunkannya. Tetapi untung saja Senja kenal baik dengan penjaga perpustakaan itu.
            Seperti biasa, suasana di perpustakaan belum terlalu ramai jadi Senja bisa leluasa memilih tempat. Ia biasa menempati bangku paling ujung yang berdekatan dengan jendela besar sehingga ketika selesai membaca, ia bisa melihat pemandangan di luar. Namun kali ini, tempat favoritnya harus ditempati oleh orang lain. Dengan langkah malas, Senja menuju tempat duduknya tersebut, sedikit terpaksa namun bagaimana lagi, perpustakaan ini milik umum jadi ia harus rela berbagi dengan orang lain.
Ketika hendak mendudukan dirinya, Senja tak sengaja mengamati laki-laki yang berada di sebrang bangkunya itu. Kacamata tebal berbingkai hitam, raut wajah yang tegas, serta rambut yang sedikit berantakan mengambarkan ciri-ciri laki itu. Senja yang sedari tadi memperhatikan laki-laki tersebut tersentak kaget karena tiba tiba laki-laki itu menghadapkan pandangannya kearah Senja.
            Dengan perasaan tak karuan, Senja kembali berdiri lalu buru-buru untuk meninggalkan tempat duduknya. Namun naas, tasnya tersangkut di ujung meja sehingga isi dalam tasnya berhamburan keluar. Senja pun terpaksa kembali membenahi tasnya. Tiba tiba saat sedang merapikan tasnya, seseorang menghampiri dan memberikan uluran tangannya. Karena penasaran, lalu Senja mendongak dan ternyata laki-laki tadi datang untuk membantunya. “Lain kali nggak usah tergesa-gesa, kayak habis ngelihat setan aja,” Ucapnya diikuti dengan tawa kecil. Senja meringis, “Iya, sebelumnya terima kasih atas bantuannya”. Dengan ramah, laki-laki tersebut melemparkan senyumannya kepada Senja, “Iya, dengan senang hati. Oh iya, namanya siapa kalau boleh tau?”


Bab 2
“Mungkin memang awal pertemuan kita tidak semulus yang diharapkan, tetapi setidaknya aku cukup senang bisa mengetahui namamu.” –R
           
“Iya, dengan senang hati. Oh iya, namanya siapa kalau boleh saya tau?” ungkap laki-laki itu sambil menyerahkan jabatan tangannya kepada Senja. “Hitung-hitung nambahin temen lah” Lanjut laki-laki asing itu. Senja terlihat bingung, bagaimana bisa laki-laki asing ini tiba-tiba saja langsung mengajaknya untuk memperkenalkan diri padahal mereka baru bertemu hari itu. Tetapi, Senja langsung menghilangkan pikiran buruk yang sempat terlintas dipikirannya, ia pikir tak salah bukan menambah ruang lingkup pertemanannya. Dengan senang hati, Senja menyambut tangan laki-laki itu, “Kemuning Lintang Disenja. Cukup panggil aku Senja aja”. “Aku Radhitya Nalar Kuncoro, panggil aja Radhit tetapi jangan panggil Coro” karena penasaran Senja pun bertanya, “Loh emang ada hubungan apa kamu-?”. Radhit tersenyum, “Coba mending kamu browsing dulu deh di google”.
Karena penasaran, Senja langsung membuka hp-nya dan membrowsing arti kata coro tersebut. Ketika sudah terbuka halaman web tersebut, Senja pun tertawa bukan main. Ternyata, coro yang dimaksud Radit berarti kecoa dalam bahasa jawa. Radhit yang sedang membaca tiba tiba kaget melihat Senja tertawa seperti itu, “Kayaknya lo senang banget Senja, ada apa?” Senja menoleh lalu menghadapkan tubuhnya kearah Radhit dan menunjukkan hp-nya ke depan wajah Radhit. “Ternyata, lo itu punya bakat lawak yang bagus ya Radhit, coba lihat ini” ucap Senja. Radhit pun langsung melihat isi hp Senja itu dan bergidik ngeri, “Sebaiknya mending cepat lo tutup web itu, sebelum gue muntah disini” ujarnya sambil menirukan gelagat orang ingin muntah. Senja pun kembali tertawa melihat tingkah laku Radhit yang seperti itu.
Setelah berbincang-bincang cukup lama,ternyata mereka memiliki banyak kesamaan, mulai dari kesukaan mereka terhadap hujan, kesukaan mereka terhadap buku, dan lainnya. Semenjak itu, Senja jadi sering berbicara banyak tentang filosofi hujan, bertukar pikiran, belajar, bahkan berbagi sedikit cerita kehidupan pribadinya kepada Radhit. Memang ia tak seharusnya percaya dengan orang yang baru ia kenal, tapi Senja tahu Radhit bukanlah orang yang mungkin akan berbuat jahat kepadanya.
Hari demi hari, bulan demi bulan pun berlalu, Radhit dan Senja pun semakin akrab layaknya sahabat yang sudah berteman sejak lama. Mereka selalu bercerita dan bercerita tanpa harus ada yang ditutup-tutupi. Namun ada satu hal yang harus mereka sembunyikan  yaitu, perasaan mereka masing-masing.


Bab 3
            Karena menyadari mereka sudah akrab bahkan sudah seperti sahabat sendiri baik Senja maupun Radhit akhirnya bertukar nomor telepon untuk sekadar memberi kabar masing-masing atau untuk saling memberi tahu jika mereka ingin bertemu di suatu tempat.  Hari ini, rencananya Radhit dan Senja akan bertemu kembali di perpustakaan mengingat sudah seminggu mereka tidak bertemu.
            Senja yang sedari tadi duduk terlihat sangat tidak fokus dengan bacaanya. Dari tadi ia hanya membolak-balikkan halaman buku tanpa atau bacaan yang ada dalam buku itu. Konsentrasinya terpecah antara buku itu dengan Radhit yang sedari tadi tak kunjung datang. Karena terlalu lama menunggu, Senja pun langsung mengambil handphonenya dan memberi pesan kepada Radhit.
Untuk: Radhit (+628#########)
“Dhit, jadi kesini nggak? Kalau nggak ya gue mending pulang aja. Lagian tadi bunda udah nelfon katanya, gue harus cepat pulang soalnya bentar lagi bakalan hujan”
1 pesan terkirim.
Sambil menunggu jawaban, Senja berdiri dan menuju kearah rak buku untuk mengembalikan buku yang sudah ia baca. Lalu ia mengitari rak buku lain untuk mencari buku-buku yang dapat ia baca selagi menunggu Radhit. Sekembalinya dari sana, satu pesan masuk terpampang jelas di handphonenya. Senja pun langsung membukanya.
Dari: Radhit (+628#########)
“Tunggu sebentar lagi ja, ini gue udah di parkiran perpus”
Untuk: Radhit (+628#########)
“Oke, gue tunggu di tempat biasa ya”
Sudah 5menit berlalu sejak Senja menerima sms dari Radhit namun Radhit tak kunjung datang. Padahal jarak dari tempat parkir menuju perpustakaan tidaklah jauh. Senja merasa bosan dan ingin beranjak dari tempat duduknya. Namun, bunyi hentakan kaki samar-samar terdengar mendekati arah Senja,
“Mau pergi ke mana?”
Suara itu membuat Senja tersentak kaget. Sontak Senja langsung menghadapkan mukanya kearah sumber suara itu, didapatinya Radhit sedang berdiri menggenggam sebuah kantong plastik putih. “Gue kira lo nggak bakal datang makanya ini gue lagi siap-siap mau pulang” tukas Senja.
Dahi gadis itu berkerut dan ia menatap Radhit dengan tatapan penuh kesal.
Radhit memiringkan kepala sedikit. “Lo marah ya sama gue?”
Senja tidak menjawab, dan hal itu membuat Radhit merasa tidak enak dan mengira bahwa Senja sangat marah kepadanya akibat terlalu lama menunggu disana. Tetapi gadis itu hanya berdiri diam disana. Apakah gadis itu benar-benar marah padanya? Sebelum Radhit sempat berpikir jauh, ia melihat Senja memejamkan mata, lalu menghela napas panjang memberi pertanda bahwa kekesalannya mungkin sudah memucak, dan mulai berjalan menghampiri Radhit.
Senja meliriknya sekilas, “Kata siapa gue marah? Emang kesal sih tapi ya mau gimana, udah terlanjur ini lagipula buat apa marah nanti cepat tua,” katanya. Senyum Radhit mengembang, mengetahui bahwa Senja tidak marah kepadanya.
“Yaudah sebagai gantinya, ini gue bawain makanan buat lo.”
“Padahal nggak usah repot-repot loh dhit, kan yang penting lo dateng aja gue udah syukur tapi boleh juga sih lagian perut gue juga mulai keroncongan.” Tukas Senja sambil tersenyum lebar.
Radhit terkekeh. “Dasar perut karet, kalau soal makanan aja cepet, besok-besok kalo marah gue sogok makanan aja ya.” Jawab Radhit lalu menyodorkan kantong plastik itu kepada Senja. Ia langsung menerima bungkusan itu dan memukul Radhit pelan karena telah mengejeknya perut karet.Lalu Radhit meringis seolah-olah kesakitan padahal pukulan Senja sama sekali tidak sakit untuknya, kemudian mereka saling bertatapan dan terhanyut dalam gelak tawa.
“Oya, gue pengen cerita sedikit tentang seseorang ke lo boleh dhit?”
“Cerita apa? Cerita aja gue dengerin kok”
 Senja menarik napas panjang untuk memulai pembicaraan itu dan mulai menatap Radhit. Dan sebaliknya, Radhit menghadapkan tubuhnya ke arah Senja lalu memasang pendengarannya baik-baik “Jadi, saat ini gue lagi mengagumi seseorang eh lebih tepatnya sih suka sama orang itu. Tapi gue nggak tau harus bersikap apa ke dia, gue takut kalo gue ngungkapin perasaan gue ke dia sekarang malah nantinya kita bakal jauh. Tapi disisi lain, perasaan ini benar-benar menggebu,” Jelas Senja dengan mata yang masih tetap terpaku pada Radhit.
Radhit tidak langsung menjawab. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Lalu ia berkata dengan nada sedikit tinggi, “Ya kalo gitu kenapa nggak lo jelasin aja langsung perasaan lo ke dia ja, bukannya lebih enak berterus terang daripada harus menyembunyikan seperti itu? Untuk urusan hasil dan resiko hubungan lo sama dia bakal jauh atau nggak ke depannya ya bawa enjoy aja, lagian cowok di dunia ini nggak dia doang kali. Santai.” Ucap Radhit sambil mengalihkan pandangannya ke sudut lain di perpustakaan ini. Hatinya berdegup kencang, mengetahui bahwa gadis yang ia sukai saat ini sedang jatuh cinta kepada orang lain. Rasa kesal dan marah bercampur aduk di dalam hatinya. Namun ia menutupinya secara rapat-rapat agar tidak diketahui Senja. Kali ini kepala Senja berputar ke arah lain, gugup, gemetar dan cemas yang ia rasakan saat itu. Bagaimana tidak? Saat ini ia sedang berhadapan langsung dengan orang yang disukainya itu namun orang tersebut sama sekali tidak mengetahui bahwa perkataannya barusan merujuk kepada orang itu.
“Tapi gue belum siap buat bilang ke dia sekarang dhit”
Radhit kembali menoleh ke arah Senja dengan alis terangkat. “Yah kalo tau gitu mending nggak usah dikasih tahu dulu lah ja.” Balas Radhit ringan dengan disambut oleh anggukan kecil Senja.
Senja mengigit bibir sejenak, lalu mengangkat wajah menatap Radhit dan berkata, “Kalau gue udah bilang ke orang itu soal perasaan gue, lo bakal jadi orang pertama yang bakal gue peluk saat itu.” Radhit tersenyum tipis. “Wah beneran? Nanti gue malah disangka yang nggak-nggak lagi sama cowok itu terus...”
“Nggak bakal, kan gue bakal bilang lo itu sahabat baik gue.” Sela Senja.
Oh sahabat.
Gumam Radhit di dalam hatinya.
“Eh boleh nggak gue gantian cerita?”
“Cerita aja, gue seneng kok dengerinnya,”
“Jadi, kemarin gue ngelihat sekilas seorang cewek duduk di sana dibawah lampu besar itu sambil baca buku. Setelah gue liatin, ini cewek beda dari yang lain, dari caranya dia baca, dari raut wajahnya menatap buku itu seakan-akan dia nggak mau ninggalin satu kata pun isi buku itu. Padahal gue selama ini nggak pernah menganut paham tentang cinta pada pandangan pertama bahkan percaya sama yang begituan, tapi dari semenjak itu gue langsung merasa bahwa gue ini udah terkena cinta pandangan pertama. Tadinya gue mau langsung kenalan sama dia, tapi dia tiba tiba pulang. Kadang ketika gue baru nyampe perpus, dia udah tidur gitu naruh kepalanya diatas meja,  gue kan nggak mungkin bangunin dia, ntar dikira gak jelas. Yaudah akhirnya sesi modus gue pun nggak jadi. Besoknya gue tungguin aja di bangku biasa dia dudukin itu. Pas gue lagi asik baca gue ngerasa risih kayak lagi diliatin orang, yaudah akhirnya gue mendongak pas gue dongak keliatan banget muka itu cewek kaget. Saking kagetnya bukunya dia jatuh semua, gue tolongin kan. Nah pas itu juga gue nyari kesempatan buat kenalan sama dia, akhirnya kita berdua kenalan“ Jelas Radhit.
“Oh gitu, ahahaha lucu juga lo Dhit bisa kena cinta pada pandangan pertama yang kata orang nggak mungkin terjadi,” Jawab Senja
Setelah bercerita panjang dan lebar, akhirnya mereka pun terdiam, saling memikirkan perasaan masing-masing. Senja merasa bodoh harus berkata bohong seperti itu padahal sebenarnya ia ingin setidaknya Radhit mengetahui perkataannya itu. Di lain pihak, Radhit juga sedih mengetahui bahwa dirinya hanya dianggap sahabat oleh gadis yang disukainya itu. Bahkan sama seperti Senja, radhit juga bercerita tentang seorang gadis yang sebenarnya itu adalah Senja, namun Radhit mengubah alur serta tempatnya. Mereka pun terdiam, terlarut dalam kesedihan masing-masing hingga tak sadar bahwa sore itu hujan turun dengan derasnya.
“Dhit, hujannya deras banget. Kita nggak balik ke rumah nih?” Tanya Senja berusaha untuk memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
“Lo yakin mau balik? Ntar malah sakit lagi,” Jawab Radhit cepat.
“Kan gue berteman baik dengan hujan. Mau gue terobos atau nggak, hujan nggak bakal bikin gue sakit kok.”
Radhit mengembuskan napas pelan. “Yaudah deh gue ikutin kata lo aja berhubung gue juga suka ujan-ujanan. Oiya lo pulang bareng gue aja. Tapi sebelumnya mending lo taruh tas lo di jok motor gue biar buku-buku lo nggak basah,”
“Oke siap bos,”
“Eh keluarin dulu tuh payung, ya kali masa ke tempat parkiran tasnya dipake. Ujung-ujungnya basah dong itu buku,”
Seulas senyum dan gelak tawa kembali terdengar di sela derasnya hujan hari itu. Mereka berdua mulai tidak terlalu memikirkan perasaan mereka masing masing. Cukup diam dan jalani kehidupan seperti biasa serta berharap agar air yang turun dari hujan itu akan membawa perasaan mereka pergi.


Bab 4
          Ketika berada di jalan arah pulang, Radhit meminggirkan motornya di sebuah minimarket kecil. Lalu mereka pergi ke minimarket tersebut bersama, “Ngapain Dhit kita kesini?” Tanya Senja. Radhit tersenyum dan berdiri menatap Senja, “Cari yang hangat-hangat, gue takutnya lo tiba-tiba Hipotermia  di tengah jalan terus nanti gue disalahin sama orang tua lo gimana? Emang nggak kasian?”  Jelas Radhit. Senja pun kembali tertawa terbahak-bahak melihat tingkah sahabatnya yang cenderung terlalu berlebihan, “Ya kali Dhit. Emang ini di kutub apa sampai bisa Hipotermia?” Tanyanya.
            Radhit tertawa. “Emang bukan, tapi kita nggak boleh terlalu meremehkan hal kecil termasuk dingin seperti ini Senja,”
            “Maaf, ya maklumi aja gue orangnya terlalu masa bodoh soal kesehatan.” Sahut Senja diiringi dengan tawa kecilnya. Karena terlalu gemas dengan tingkah laku ‘gadisnya’ itu Radhit tanpa sengaja mendaratkan kepalan ke atas kepala Senja.
            Senja mendengus pelan dan meringis kesakitan, “Gue tau badan lo lebih besar tapi jangan berlaku seenaknya gitu dong sama yang kecil, sakit kali,” Omel Senja sambil menggembungkan pipinya. Radhit yang kembali dibuat gemas dengan tingkah laku Senja langsung menarik pipi Senja, “Iya bawel. Buruan pesan makanan sana.” Senja mengerucutkan pipinya dan mendumel tak jelas, “Buat apa pesan makanan? Kan tadi lo udah beliin gue makanan. Mubazir dong makanan yang di jok,” Kata Senja.
            Radhit tersenyum, “Ya buat makan, lagipula yang tadi gue kasih ke lo itu cuma coklat kok ja, kan bisa lo makan pas nyampe rumah kalo ini mah beda lagi.” Senja pun mengangguk mendengar penjelasan Radhit lalu segera melangkahkan kakinya ke tempat makanan. Dari jauh, Radhit memperhatikan Senja dengan penuh antusias. Mulai dari cara berjalannya, cara ia menaruh beberapa helai rambutnya dibelakang telinganya, cara memadukan pakaiannya, cara ia berbicara dan cara ia tersenyum membuat Radhit semakin jatuh hati kepadanya. Hampir semua yang Senja lakukan tersebut sangat cocok dengan tipe gadis yang ia sukai.
Senja memang bukan seorang gadis yang pandai memoles bedak ataupun alat make up ke wajahnya, Senja juga bukan seorang model yang pandai berjalan atau bahkan pandai meliuk-liukkan tubuh idealnya di depan orang banyak tetapi menurut Radhit, Senja sudah sama seperti mereka namun dengan skala yang berbeda. Mereka terlalu mewah sedangkan Senja dengan versi lebih sederhana. Tubuhnya yang mungil namun proporsional, Rambutnya yang bergelombang bak ombak di lautan, alisnya yang sedikit tebal dan hidungnya yang mancung, serta tahi lalat di bawah mata kanannya menambah nilai keindahan yang sempurna untuk Radhit. Memang berlebihan, tapi apa mau dikata, namanya jatuh cinta semua pasti diagung-agungkan.
            Tersadar karena terlalu lama melamun, Radhit akhirnya menyadari bahwa Senja sudah ada di hadapannya sedang memerhatikannya sambil membawa nampan yang berisi makanan. Senja bingung melihat Radhit sedari tadi melihatnya dengan tatapan kosong. Akhirnya Senja menepuk bahu Radhit dan membuatnya tersadar dari lamunannya itu.
            “Lo mikirin apa sih Dhit sampe segitunya?”
            “Nggak mikirin apa apa kok, abis lo lama pesannya makanya gue bengong dari tadi,”
            “Awas kesambet lo.” Kata Senja diiringi dengan gelak tawa.
            “Nggak bakal lah, kan jiwa gue kuat. Oh iya, kalo boleh tau apa alasan lo jadi seorang pluviophile[1]?” Tanya Radhit dengan penuh penasaran.
            Sejenak Senja menghentikan aktivitas mengunyah makanannya ketika mendengar si Radhit bertanya padanya. Sambil menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan keras, ia mulai bercerita, “Sebenarnya ceritanya panjang, tapi gue kasih tau aja ya intinya.” Kata Senja. Radhit pun mengangguk antusias seperti anak kecil yang menunggu diberi dongeng oleh sang ibu. “Jadi, waktu kecil dulu gue pernah ikut lomba dan gue ngira orang tua gue nggak bakal dateng di perlombaan itu. Pada saat itu hujan lagi turun deras-derasnya nah temen gue bilang katanya kalo berdoa disaat hujan, semua permintaan lo didalam doa itu bakal terkabulkan. Ya namanya anak kecil pasti nurut aja dong dikasih tahu kayak gitu. Akhirnya gue berdoa dan terus berdoa sama Tuhan biar orang tua gue ngelihat putrinya bisa menangin lomba itu. Dan alhasil, doa gue terkabulkan. Dari situlah gue selalu senang setiap hujan turun. Hujan itu mengingatkan kedua orang yang paling gue sayangi di dunia ini, yaitu orang tua gue yang waktu itu datang ke perlombaan padahal mereka lagi sibuk gitu, hujan juga selalu jadi teman baik gue kalo gue lagi kesepian apalagi gue anak tunggal dan orang tua gue udah nggak ada gini,” Jelas Senja. Radhit yang tidak tahu menahu bahwa Senja seorang yatim piatu tertegun, “Sorry, gue bikin lo jadi flashback gini. Turut berduka ya nja.” Ucap Radhit. “Ehehehe, nggak apa apa kok Dhit santai aja. Makasih ya. Eh kalo boleh tau juga kenapa lo bisa juga suka sama hujan?” Tanya Senja. Radhit membuka mulutnya dan berkata, “Ah itu, kalo gue sih karena gue merasa damai dan tentram gitu waktu hujan mulai turun, Nggak cuma itu, disaat hujan lo juga bisa dengar orkestra sederhana. Ibarat candu, orkestra ini bisa menenangkan lo, bedanya, ia tak berdampak negatif pada tubuh dan kesehatan sih. Selain itu, gue juga suka sama bau-bau khas yang menandakan hujan akan turun ituloh periskop, eh petshop, pet apa itudeh ehehehe.”
            “Ahahahaha mungkin maksud lo petrichor[2] kan?”
            “Nah iya itu ahahaha maaf kan gue bukan ahli biologi ataupun kimia,”
            “Gue juga suka itu, kadang gue kayak kebius gitu malah.” Sahut Senja.
            Radhit pun bangkit dari pun segera bangkit dari tempat duduknya, tak lupa Senja juga mengikutinya. “Jalan lagi yuk, ntar gue dimarahin lagi bawa anak orang pergi main,” Canda Radhit kepada Senja. Senja pun terkekeh, “Oke siap captain!".


Bab 5
            Dua bulan berlalu.
            Radhit dan Senja semakin jarang bertemu di perpustakaan. bahkan mereka tak sempat memberi kabar masing-masing melalui pesan singkat dikarenakan Senja yang sibuk dengan ujian di sekolahnya. Sedangkan Radhit entah kenapa belakangan ini susah sekali untuk dihubungi. Senja khawatir takut-takut sesuatu yang buruk terjadi pada sahabatnya itu. Namun, ia selalu berpikiran positif. Mungkin saja Radhit sedang sibuk mengurus kegiatan ekskulnya atau mungkin sibuk dengan tugas-tugas sekolahnya.
            Tapi tetap saja rasa khawatir Senja tidak pernah menghilang, maka hari ini ia memutuskan untuk ingin menelfon dan mengajak Radhit bertemu kembali di perpustakaan. Diambilnya handphone lalu dicarinya kontak Radhit dalam hapenya itu dan mulai menekan tombol telefon, 
            ”Halo Radhit”
            Iya, ada apa nja?”
            “Apa kabar?”
            “Baik, lo?”
            “Baik juga, lo lagi sibuk ya hari ini?”
            “Nggak terlalu sibuk kayak kemarin, emang ada apa nja?”
            “Kita udah lama nggak ngobrol. Ketemuan di perpus, mau?”
            “Boleh”
            “Kalo bawa temen nggak apa apa kan?”
            Jujur Senja tak ingin Radhit membawa temannya karena saat ini ia ingin menghabiskan waktu bersamanya, namun mau tak mau Senja memperbolehkannya.
            “Nja, masih disana kan?”
            “Masih kok, oh yaudah bawa aja nggak apa-apa”
            “Kalo gitu sampe ketemu disana ya,”
            “Iya, Radhit.” Ucap Senja dengan lirih.
            Senja pun bersiap-siap menuju ke perpus, kali ini ia tak berniat ingin membaca sesuatu disana. Ia hanya ingin bertemu dengan Radhit lalu melepaskan kerinduannya kepada orang itu. Perasaan gundah menghantui dirinya, penasaran siapakah orang yang diajak Radhit pergi bertemu dengannya. Seberapa pentingkah orang itu sampai sampai Radhit harus membawa sertakannya. Pikiran ituterus memenuhi benak pikiran Senja.
            Sesampainya disana, ia langsung menunjukkan kartu tanda anggota perpustakaan kepada pak toto dan berjalan menuju tempat biasa yang ia duduki. Sambil menunggu kedatangan Radhit dan temannya itu, Senja melihat kearah luar, menatap awan yang bergerumul dan matahari yang bersinar cerah siang ini. Tiba-tiba langkah kaki datang bersamaan, Senja pun menoleh dan kaget melihat Radhit membawa seorang perempuan. Namun masih saja Senja menyembunyikan ekspresi wajahnya itu,
            “Senja, apa kabar lo?” Kata Radhit
            “Baik, Lo sendiri gimana dua bulan ini? Eh iya siapa orang ini Dhit?”
            “Baik juga lah, Oh iya kenalin ini Rani temen ekskul gue, dia ini yang gue ceritain waktu itu ke lo nja,” Ucap Radhit.
            Deg.
Sakit bukan main mendengar perkataan Radhit tadi. Seperti seolah-olah hatinya tertikam dengan sebuah pisau dan kemudian pisau itu mulai mengirisnya secara perlahan.
Sekali lagi, Senja berusaha menutupi kesedihannya. Ingin sekali menangis, tapi sadar bahwa saat ini ia sedang berada di tempat umum yang cukup ramai dengan orang. Tiba tiba gadis yang bernama Rani itu mengulurkan tangannya dan berkata, “Hai, aku Rani. Aku udah dengar semua cerita tentang kamu dari Radhit, aku harap kita bisa berteman baik ya,” Senja menerima uluran tangan itu dan menjawab, “Hai Rani, Aku Senja. Senang berkenalan dengan kamu. Iya aku harap begitu, Ahahaha” Ucap Senja.
Lalu mereka bertiga berbincang, sampai pada akhirnya Radhit berkata, “Senja, gue lupa ngasih tau lo kalo gue udah jadian sama Rani sebulan yang lalu.” Lagi lagi Senja dibuat sedih oleh Radhit, karena tidak tahan air mata sudah mengumpul di pelupuk matanya. “Ah benar? Wah selamat deh Dhit buat lo, langgeng ya.” Ucap Senja lirih. Radhit yang menyadari itu, langsung bertanya kepada Senja, “Makasih ya nja. Btw, lo lagi sakit nja?” Tanya Radhit pada Senja. “Sama-sama, nggak apa apa kok gue. Eh iya gue balik duluan boleh?” Tanya Senja. Radhit kebingungandengan sikap Senja langsung mengiyakan, “Oh yaudah kalo itu mau lo. Kita juga mau balik kok, Hati-hati ya.”
Senja langsung terburu-buru meninggalkan tempat itu dan ingin merebahkan diri atau meluapkan tangisannya di kamar kesukaannya. Ia bersungguh-sungguh dan berjanji pada dirinya mulai sekarang ia tak akan lagi berhubungan dengan Radhit.
Bab 6
        “Kadang-kadang pilihan yang terbaik adalah menerima…”
-    (RECTOVERSO)
        Semenjak kejadian itu, Senja menjadi lebih pendiam. Bahkan ia tak pernah lagi mengangkat semua telfon dari Radhit. Sampai pada suatu hari, Radhit mengajaknya bertemu, Senja tetap saja selalu menolak dengan berbagai macam alasan. Karena tidak tahan, Radhit pun mencoba menghubungi Senja kembali.
            “Halo nja, lo lagi dimana?”
            “Lagi dirumah, ada apa Dhit?”
            “Kita ketemuan di perpus yuk hari ini”
            “Eum, tapi maaf Dhit gue nggak bisa.”
            “Emangnya ada apa sih lo nggak mau terus kalo gue ajak ketemuan?”
            Dengan nada bicara yang tinggi, Senja berkata “Intinya gue nggak bisa dan nggak ingin ketemu lagi sama lo. Mungkin lo bakal bertanya-tanya kenapa gue seperti ini. Tapi gue udah berjanji nggak bakal ketemu lagi. Lebih baik lo urusin aja cewek lo, nanti dia nganggep gue perebut lo lagi. Udah ya mulai sekarang kita nggak usah ketemuan.”  Di seberang sana senja langsung menutup telfonnya, ia menangis dan terus menangis telah berkata seperti itu kepada Radhit. Radhit pun terdiam, rencananya untuk membuat Senja cemburu padanya berhasil namun masalah nya Senja menjadi sangat tak ingin bertemunya. Penyesalan datang, ia tak menyangka bahwa Senja akan semarah ini padanya. Padahal ia ingin hari ini mereka bertemu dan Radhit ingin mengungkapkan perasaannya kepada Senja dan ingin melepaskan kata-kata terakhirnya kepada Senja sebelum ajal menjemputnya.
            1 bulan kemudian,
            Pagi ini Senja sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi. Namun handphone di kamarnya selalu berdering, dan akhirnya ia mengangkat telfon itu.
            “Halo”
            “Senja ya?” Ucap orang ini diiringi dengan isak tangis. Senja kebingungan dan segera bertanya,
            “Iya, kenapa ya?”
            Ini aku Rani, beberapa minggu yang lalu Radhit jatuh tergelincir dari motor nja. Ia menerobos hujan hanya untuk menemui kamu nja, tapi sayang pendarahan hebat di kepala sehingga..”
            “Sehingga apa?” Tanya Senja dengan muka penuh kekhawatiran dan cemas.
            Radhit meninggal.”  Ucap Rani.
            Tangis Senja pun pecah, ia tak menyangka Radhit yang ia sayangi itu telah pergi dari dunia ini. Ia menyesal telah mengabaikan bahkan memarahi Radhit saat itu. ia tak tahu bahwa Radhit rela menerobos hujan besar, hanya untuk menemui dan meminta maaf padanya.

I’m the one who pushed you away
I was a fool, Baby.
I was a fool
Even if I regret it now, nothing will change.
(winner – fool )

Sungguh ia sangat merasa bodoh dan menyesal amat sangat menyesal. Ia tidak bisa memaafkan dirinya yang begitu egois. Ia menjadi benci terhadap hujan yang telah merenggut nyawa laki-laki kesayangannya itu.
            Keesokan harinya, Senja masih terus berdiam diri di dalam kamarnya. Bahkan bunda panti sering membujuknya untuk keluar, tetapi sama, ia tetap mengurungkan diri seperti kemarin. Ketika hendak membangunkan Senja tiba tiba pengirim paket datang ke panti asuhan itu. Bunda panti langsung mengambil paketan tersebut, dan menyerahkan paketan itu kepada Senja. Awalnya Senja enggan untuk membukanya namun ia penasaran. Dan akhirnya membukanya. Didapatinya dua buah kaset dvd yang bertuliskan untuk Senja. karena penasaran Senja langsung menonton dvd itu.
            Terpampang jelas dalam video itu wajah pucat Radhit yang sedang menatap kosong layar laptop didepannya “Hai Senja. Apa kabar? Aku tidak pernah melihatmu lagi di perpus. Semenjak hari itu, aku tidak pernah lagi melihatmu berkunjung di perpustakaan. Entah mungkin kamu sibuk atau memang berniat untuk menjauhiku. Tapi sungguh aku minta maaf dan menyesal jika telah membuatmu marah. Sejujurnya hubunganku dengan Rani hanyalah sebatas teman semata. Berita tentang kami jadian itu, hanyalah ide kami. Tadinya aku berniat menjahilimu, namun ternyata kamu akan semarah itu kepadaku. Sebenarnya waktu itu aku ingin mengungkapkan perasaan ku padamu tapi sayang, kamu sudah terlanjur benci padaku. Aku tahu aku salah sudah menjahilimu seperti itu, tapi aku tidak berniat jahat kepadamu. Sungguh dari lubuk hati yang terdalam, aku ingin kamu memaafkan aku agar ketika nanti aku dipanggil Tuhan, aku bisa beristirahat dengan tenang disana tanpa harus dihantui rasa bersalah telah menyakiti orang di dunia. Aku harap kau akan memaafkanku Senja. Malam ini hujan turun tak seperti biasanya. Turun terus menerus tanpa berhenti. Apakah ini tanda bahwa kematian sudah ingin menjemputku dengan hujan ini? Entahlah aku tak tahu tapi perasaan ini berkata seperti itu. Aku ingin setelah kamu mendengar rekaman ini, kamu berjanji untuk selalu mencintai hujan dan tetap menganggap hujan itu seperti temanmu. Aku ingin dengan adanya hujan turun, kamu akan selalu mengingat aku dan tentunya kedua orang tuamu itu. Janji? Terima kasih sudah menjadi gadis yang aku sayangi selama ini. Terima kasih sudah mau berkenalan denganku. Selamat tinggal, cinta. “
            Senja kembali menangis bahkan tak karuan, sungguh ia tak pernah tahu bahwa Radhit benar benar menyayanginya. Ia menangis hebat, menyesali kebodohannya yang tak mau pergi menemui Radhit saat itu.
Esoknya, Ia berkunjung ke pemakaman Radhit untuk memaafkan kesalahan Radhit dan berusaha untuk tidak menangisinya agar ia tenang. Ia juga berjanji tidak akan membenci hujan lagi, karena dengan adanya hujan turun sosok Radhit dan Orang tuanya akan menemaninya saat itu.

                                        “Disaat itulah hujan yang tadinya turun dari pelupuk mata kini berubah menjadi hujan yang seperti biasa kunantikan. Aku tersadar kini aku hanya ingin menjadi seperti hujan. bebas, sejuk, tak pernah sendiri, dan hanya mengikuti kemana arah awan berlabuh
W.F.N

  • Share:

You Might Also Like

0 comments